Disadur dari “Mengais Nafas”, Rubrik Khothorot (Editorial), Tarbawi edisi 195 Th. 10, Shafar 1430, 22 Januari 2009
Di atas puing-puing peradaban yang runtuh, kita mengais sisa-sisa nafas. Untuk ratusan kematiann di Gaza kita harus mengutuk. Kebencian adalah sisi lain dari keimanan, yang harus terus dinyalakan untuk mereka yang membunuh, merampas, menghancurkan, merontokkan sendi-sendi hidup, menghilangkan nyawa, dan merampas hak.
Terserah orang mencari tafsir apa, atas serangan bom dan roket yang dilakukan Israel di Gaza. Faktanya bahwa penjajah itu telah membunuh ratusan orang. Mayat –mayat bergelimpangan di jalanan. Faktanya penajajah itu telah melukai ribuan lainnya yang mengantri sekarat, disebabkan ambulan macet kehabisan bahan bakar. Lantaran obat-obat tak lagi tersedia dan perbatasan Gaza dengan Mesir masih gelap dari lalu lintas.
Terserah orang mencari tafsir apa, atas serangan bom Israel di Gaza. Faktanya tentara zionis itu terus menghancurkan puluhan bangunan, kampus, kantor, rumah, kendaraan, bahkan masijid. Memupus harapan dan mimpi anak-anak kecil yang sedang belajar mengakrabi zona kehidupan mereka yang keras. Listrik mati dan malam begitu gelap. Air tak lagi mengalir.
Terserah orang mencari tasfsir apa, atas sikap amerika yang selalu membenarkan segala tindakan Israel. Faktanya memang amerika selalu berdiri di garis depan dalam membela Israel. Apapun yang dilakukan Israel adalah benar di mata amerika. Bisa jadi serangan Israel atas Gaza, hanyalah cara anak asuh amerika itu menunjukkan kepada bapak angkatnya. Mungkin Israel ingin menyampaikan pesan kepada presiden baru amerika, bahwa gempita sambutan optimisme dunia tas terpilihnya obama, tidak akan bisa mempengaruhi sikap kepala batunya. Ini juga isyarat bahwa mengharapkan jargon perubahan versi obama akan mengubah juga sikapnya kepada Israel, mungkin ibarat menggantang asap.
Terserah orang mencari tafsir apa, atas sikap ummat Islam yang marah. Di berbagai penjuru dunia demo digelar. Solidaritas bergelora di tengah gelombang kegetiran, menghasilkan dollar demi dollar yang dengan tulus dikumpulkan. Dengan harapan bisa membantu tragedy Gaza. Mungkin tidak sampai menyelesaikan, tapi setidaknya menyemangati. Selanjutnya itu adalah pembuktian bahwa mereka tak ingin dicap sebagai bukan ummat Muhammad saw, lantaran tak peduli dengan nestapa yang tengah diderita ummat Islam yang lain.
Di atas puing-puing peradaban yang runtuh, kita mengais sisa-sisa nafas. Untuk ratusan kematian di Gaza kita harus mengutuk. Kebencian adalah sisi lain dari keimanan, yang harus terus dinyalakan untuk mereka yang membunuh, merampas, menghancurkan, merontikkan sendi-sendi hidup, menghilangkan nyawa, dan merampas hak.