Jomblo galau itu bikin grrrrrrrhhhh ><

sering dengar kan ya soal ‘jojoba’ , jomblo-jomblo bahagia, atau HQJ, high quality jomblo, dua istilah yang cukup mengangkat citra jomblo menjadi positif. Lantas bagaimana dengan jomblo-jomblo galau sebut saja jojoga (mekso wkwk). Semakin antah berantah aj ini istilahnya. Baiklah, alkisah ada seorang jomblo, tampang alhamdulillah biasa aj, saya bilang sih culun punya, semuanya biasa aj khas abdi negera kita lah, kecuali memang jenjang pendidikannya yang lumayan di atas rata2 untuk tempat kerja jomblo kita kali ini. Sebenarnya saya ga tega nulis ini tapi bagaimana kegalauannya yang ga sopan itu bikin saya empet juga akhirnya.

Awalnya saya dan rekan seperjuangan saya cukup simpatik dengan orang ini. Tak tega melihat kejombloannya yang hampir memasuki kepala 4, kami cobalah untuk mempertemukan sosok bidadari, siapa tahu jodoh. Rupanya, secara fisik jomblo qt kali ini tidak cocok dengan bidadari yang kami coba pertemukan, oke lah ga masalah, namanya juga belum jodoh, bukan begitu para pembaca yang budiman? Nah yang jd masalah kemudian caranya bilang ‘ngga’ itu yang bertele-tele dan terlihat angkuh. Begini kurang lebihnya, klo liat take me out lampunya mati. Karena kami tak begitu ngeh dengan acara obral jodoh semacam itu, terutama rekan seperjuangan saya itu, mikir agak lama juga dengan jawaban orang tersebut. Padahal tinggal bilang, “Nggak deh.” Apa susahnya ya, heran.

Waktu itu, rekan seperjuangan saya menjelaskan mengenai jojoga ini, katanya sih orang ini termasuk orang yang minderan gitu dulu. Setelah mendapat penjelasan itu, okelah saya bisa menerima caranya mengatakan tidak, saya anggap saja dia mungkin sungkan n ga enak untuk langsung selesai, case closed !

Beberapa waktu kemudian, taraaaaa, gara-gara lagi rumpi rempong ria dengan adik ipar, jreng si adik ipar bilang, “He sama mba temen saya ngajar aj, cantik, tinggi, lagi nyari juga.” Semangat menjodohkan orang pun kembali berkobar tet tereet teet teeet. Singkat cerita, rekan seperjuangan saya kemudian menghubungi sang jomblo kita kali ini. Diawali dengan sekedar basa-basi tanya kabar, lalu bertanya, “Masih cari istri ngga?” Jederrrrrrrrr dia menjawab, “Emang ada barang bening? klo butek tawarin ke yang lain aja.” Cetar banget ya jawabnya. Untunglah bukan sms an sama saya, klo itu temen saya wooooo sudah tak umreng-umreng, sembarangan aja bilang barang, huft. Rekan seperjuangan saya cuman bilang, jangan bilang barang lah, itu putranya guru kita waktu sma dulu. mak cep klakep. woalaaaah dasar jomblo galau.

Rupanya jomblo galau qt kali ini mengenal salah satu kakak dari bidadari yang mau kami pertemukan, dia bilang, “Mirip kakaknya yang jadi pustakawan itu ngga?” Memang kakaknya yang satu ini secara fisik biasa aja. Halah-halah masih juga gitu, heran apaaa yang ada di otaknya. Lalu rekan seperjuangan saya bilang, “Beda, tinggi.” Terus memintanya sowan aj ke rumahnya, biar g bertele-tele. Dia bilang, “Malu, ngga ada alasan buat main.” Waalaaah ini udah mo kepala 4 kok ya kayak anak smp aj, fiyuuuh, padahal apa td dibilangnya barang, kebukti ini jomblo galau akut.

Jujurnya ilfeel bangeet nget nget sama orang ini. Saya nanya ke rekan seperjuangan saya, “Mas teman njenengan itu rada cemen ya orangnya?” (cemen itu kata2 yang sebenere saya lmyn benci menggunakannya, klo sampai keluar berarti udah terlalu), sok-sok annya lagi menganalisis wkwk. Dijawabnya,”Ngga lah, dia itu cuman minder.” Klo kata rekan seperjuangan saya ini mindenya karena ada bagian di wajah yang kurang simetris, padahal pas saya ketemu, g ada yang aneh dengan wajahnya tuh. Hmmm dari situ saya jadi mikir, cemen ma minder beda tipis, tapi tetep aja beda, minder itu g pede, mungkin juga takut, tapi orang yang minder biasanya masih bisa menghargai orang lain tanpa melecehkan, yang ada malah merendahkan diri terus. Gimana klo cemen? Mungkin ga pede juga, takut juga, tapi sok berani, angkuh, dan penghargaan terhadap orang lain kurang. Bagaimana dengan kita, semoga ga termasuk dua-duanya 🙂 Saya cuman cengar cengir sendiri, ternyata walaupun jenjang pendidikan cukup berpengaruh terhadap pola pikir dan kedewasaan berpikir seseorang, tapi ini anomali, entahlah… Allahua’lam

Bagaimana kisah jojoga kita kali ini, kita tunggu saja, biar waktu yang akan menjawab…. Semoga sih analisis saya salah, tapi seandanya benar moga Allah swt ngasih pelajaran yang bikin kapok jomblo galau kita kali ini… Aamiin yaa Rabb.

Advertisements

Katakan Tidak Pada Anak oleh Mohammad Fauzil Adhim

by Mohammad Fauzil Adhim on Tuesday, December 27, 2011 at 8:53am ·

Tidak sah syahadat tanpa mengucap kata tidak. Bermula dari kata tidak, perubahan besar bisa terjadi, dari kafir menjadi Muslim. Bermula dari kata tidak, sebuah risalah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (SAW) telah mengubah jazirah Arab yang jahiliyah menjadi kekuatan yang disegani dan mencerahkan. Bermula dari kata tidak, ada yang sebelumnya tampak tidak mungkin, menjadi kenyataan yang mengagumkan. Budak-budak dan orang tak berpunya yang awalnya dihinakan oleh manusia, sekarang telah berdiri dengan gagah di depan para raja dan kaisar tanpa gemetar sedikit pun kakinya. Bermula dari kata tidak, rasa rendah diri telah berubah menjadi percaya diri luar biasa tatkala berhadapan dengan para pembesar. Mereka tidak minder, tidak pula sombong.

Adakalanya kata tidak bisa diganti dengan ungkapan lain. “Tidak boleh buang sampah sembarangan” bisa kita tukar dengan kalimat “buanglah sampah pada tempatnya”. Kalimat kedua lebih jelas maksudnya, positif dan mudah dimengerti. Tetapi kalimat “dilarang (tidak boleh) merokok” tidak bisa digantikan dengan kalimat “matikan rokok Anda”. Dilarang merokok berarti penolakan penuh terhadap rokok, sedangkan matikan rokok Anda bermakna masih ada toleransi untuk merokok asalkan tidak di tempat tersebut. Kalimat “dilarang merokok” jelas arahnya: penolakan secara penuh. Tetapi kalimat “harap merokok pada tempatnya” berarti memuliakan para perokok dengan menyediakan tempat yang khusus.

Kata tidak juga bisa menjadi penegas dan penguat pernyataan. Kesaksian bahwa tuhan itu adalah Allah tidak cukup untuk menggambarkan bertauhidnya seseorang. Orang yang berkata bahwa tuhannya adalah Allah, bisa saja pada saat yang sama menghamba kepada yang lain. Tetapi ketika kita bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, kita menegaskan bahwa tidak ada satu pun di muka bumi ini yang layak disembah kecuali Allah. Di sini kata tidak menegaskan kesaksian bahwa tuhan itu Allah. Tak ada yang lain.

Di luar masalah tauhid, manakah yang lebih efektif untuk menyampaikan larangan; menggunakan kata tidak dan yang semisal atau kata-kata positif? Mari kita tengok contoh di sekeliling kita. Larangan merokok di negeri kita menggunakan kalimat positif dengan menyebut serangkaian bahaya merokok. Tapi apakah jumlah perokok berkurang drastis? Tidak. Justru bertambah banyak. Sebaliknya di Singapura, larangan merokok menggunakan kalimat larangan yang sederhana. “No smoking!” Dilarang merokok. Ringkas, tajam, dan jelas melarang. Hasilnya? Anda sulit menemukan orang yang merokok.

Tentu penjelasan ini terlalu sederhana. Tapi saya ingin menunjukkan bahwa kata tidak adakalanya lebih manfaatnya dalam menyampaikan larangan maupun keyakinan. Benar bahwa terlalu banyak melarang anak membuat mereka sulit berkembang. Tidak kreatif. Saya sendiri sudah pernah menyinggung masalah ini, sehingga ada satu sub judul khusus di buku Saat Berharga untuk Anak Kita bertajuk Jangan Berkata Jangan. Tetapi ini tidak menunjukkan keharusan membuang kata jangan agar pesan kita lebih efektif.

Jika kita menilik al-Qur’an, Anda akan menjumpai nasihat orangtua yang diabadikan oleh Allah Ta’ala. Inilah nasihat Luqman kepada putranya. Ia berkata,…“Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah merupakan kezaliman yang besar.” (Luqman [31]: 13).

Inilah nasihat seorang ayah yang benar-benar mengantarkannya kepada kemuliaan tertinggi, yakni meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah nasihat yang mendapat berkah berlimpah dari Allah Ta’ala; membawa kebaikan kepada yang dinasihati dan mendatangkan pahala bagi mereka yang membaca nasihatnya disebabkan Allah Ta’ala telah abadikan sebagai ayat suci-Nya. Inilah nasihat yang mengantarkan pengucapnya, yakni Luqman, meraih surga Allah SWT. Dan nasihat ini diawali dengan kata la (tidak, jangan).

Lalu apa yang perlu kita perhatikan dalam menyampaikan larangan? Catatan sederhana berikut ini, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Ikuti dengan Penjelasan

Bukalah al-Qur’an dan akan dapati betapa banyak larangan dari Allah SWT kepada manusia. Perhatikan bagaimana Allah SWT memberi larangan. Misalnya, kita simak pada ayat berikut, “Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh penampilan orang-orang kafir di berbagai negeri. Itu hanyalah kesenangan sejenak, kemudian tempat kembali mereka adalah (neraka) Jahannam, dan itulah tempat yang paling buruk. Namun bagi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya adalah surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya, sebagai tempat tinggal di sisi Allah. Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran [3]: 196-198).

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Ada penjelasan yang menyertai sehingga menguatkan larangan. Penjelasan ini lebih dikuatkan lagi dengan menerangkan keadaan yang berkebalikan dengan mereka yang menerjang larangan, yakni nikmat surga bagi orang-orang yang bertakwa. Dalam hal ini, ada larangan, ada penjelasan yang menyertai, dan ada pembanding yang kuat. Jadi, bukan berisi larangan semata.

Cara melarang diikuti penjelasan semacam ini bisa kita jumpai dalam berbagai ayat lainnya, tapi kita tidak merincinya sekarang. Anda bisa membuka sendiri mushaf al-Qur’an di rumah Anda. Yang ingin saya perbincangkan pada kesempatan kali ini adalah, sebagai orangtua ada yang perlu kita perbaiki pada cara kita melarang. Yang paling mudah adalah melarang tanpa memberi alasan. Tetapi ini tidak membuat anak mengerti alasannya, sehingga ketika menjumpai hal-hal yang serupa, ia tidak bisa menerapkan prinsip yang sama. Kita perlu melarang lagi, dan melarang lagi. Kenapa? Karena ia menjauhi larangan tanpa mengerti sebabnya. Atau ia menjauhi larangan semata karena takut kepada kita.

Jadi, usahakanlah untuk memberi penjelasan atas setiap larangan. Penjelasan itu bisa mendahului, bisa juga menyertai larangan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Pola lain yang bisa kita petik dari al-Qur’an adalah larangan disertai alternatif atau pengganti. Mari kita periksa ayat ini, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengatakan (kepada Muhammad), “Raa’ina (simaklah kami),” tetapi katakanlah, “Unzhurnaa (dengarlah kami).” Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (Al-Baqarah [2]: 104).

Pola serupa juga bisa kita jumpai, tatkala Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kamu hendak melakukan shalat, janganlah berjalan dengan tergesa-gesa, namun datangilah dengan tenang dan kesabaran terhormat.” (Riwayat Bukhari).

Di luar itu, kita menjumpai bentuk lain, yakni larangan disertai dengan penegasan. “Janganlah kamu melakukan apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi, lalu kamu menghalalkan apa yang diharamkan Allah dengan muslihat yang rendah.” (Riwayat Bukhari & Muslim).

Atau sebagai diriwayatkan dari Abu Dzar RA sebagaimana termaktub dalam Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali kamu menyepelekan kebaikan apa pun. Dan jika kamu tidak punya, temuilah saudaramu itu dengan wajah yang ceria.” (Riwayat Muslim).

Nah, lalu bagaimana cara kita melarang anak selama ini? Katakan jangan kepada anak, tetapi sertailah penjelasan. Berilah mereka pembanding dan penguat atau alternatif tindakan yang bisa mereka ambil.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Hati-hati dalam Memberi Batasan

Sebagian orangtua bermaksud menegaskan larangan, tetapi yang ia lakukan sebenarnya adalah memberi batasan dan melonggarkan. Misalnya, ketika anaknya yang kelas 5 SD berbicara tentang pacaran, orangtua menukas dengan kalimat, “Tidak boleh bicara pacaran. Kamu masih kecil.” Kalimat yang menyertai larangan seperti memperkuat larangan, tetapi sebenarnya memberi batas waktu, yakni larangan itu hilang jika mereka sudah besar. Masalahnya, tanpa penjelasan yang cukup, anak memahaminya bukan saja sebagai batas waktu bicara tentang pacaran. Lebih dari itu juga mencakup kebolehan pacaran jika waktunya telah tiba.

Karenanya, jika sebuah larangan memang tidak boleh secara mutlak diterjang kapan pun waktunya, maka janganlah memberi batasan. Sampaikan saja larangan dan sertai dengan penjelasan atau alternatif tindakan.

Wallahu a’lam bishawab.

Kerjakan PR di Rumah Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

by Mohammad Fauzil Adhim on Friday, November 9, 2012 at 9:52am ·

Saat guru menerangkan, ia asyik menulis. Tampaknya mencatat, tapi wajahnya tampak tidak menyimak apa yang diterangkan oleh guru. Matanya terpaku pada buku tulis yang ada di hadapannya, tapi ia kehilangan kontak guru yang sedang menjelaskan penuh semangat di depan kelas. Sesekali ia menarik sebuah buku dari dalam laci meja, membaca dengan segera dan buru-buru memasukkan lagi, lalu ia kembali menulis sambil sesekali mengarahkan pandangan mata ke depan. Tapi ini bukan pandangan mata yang sedang mengikuti pelajaran dengan antusias.

Ia sedang serius, tapi bukan serius memperhatikan pelajaran. Ia sedang memiliki keseriusan sendiri yang tidak terkait dengan pelajaran yang sedang berlangsung. Ia tenggelam dalam kesibukan. Sesekali mengarahkan pandangan mata ke depan, seakan mendengarkan, tapi tampak bahwa mata dan pikirannya bukan sedang memperhatikan. Ada urusan lain yang sedang menanti untuk diselesaikan. A serious job is awaiting.

Sesekali ia tampak gugup, lalu menampakkan sikap berlebihan dalam memperhatikan. Duduk dengan tegap atau kelewat serius dibanding biasanya. Tetapi apa yang terjadi padanya? O, rupanya sebuah PR sedang ia tuntaskan pengerjaannya (finishing the task) di kelas, meski sedang berlangsung pelajaran lain. Akibatnya, ia tidak mampu memperhatikan dengan baik seluruh proses pembelajaran yang berlangsung. Ia kehilangan kegairahan dan antusiasme belajar pada saat itu. Dan ini tentu akan berakibat menurunnya perhatian terhadap pelajaran itu di waktu-waktu berikutnya.

PR-nya memang selesai ia kerjakan. Ia merampungkan pengerjaan tugas (finishing the task), tapi ia sebenarnya tidak menyelesaikan tugas dengan baik (completing the assignment well). Dua hal ini sangat berbeda. Tapi jika guru tidak memberi umpan balik (feedback) dengan baik dan tepat kepada siswa, maka sulit sekali membedakan mana siswa yang hanya merampungkan pengerjaan tugas dan mana siswa yang bersungguh-sungguh menyelesaikan tugas. Dan jika ini diabaikan, siswa dapat kehilangan motivasi belajar (academic motivation) yang bersifat sesaat atau berkelanjutan sehingga pada akhirnya motivasi belajar siswa benar-benar payah. Jika masih tetap diabaikan, dapat menular kepada siswa yang lain sehingga merusak iklim kelas (classroom climate) secara keseluruhan.

Nah.

Inilah kenyataan yang tak jarang membingungkan guru dan kepala sekolah. Kegiatan motivasi sudah sering dilakukan. Training motivasi tak kurang-kurang. Bahkan bila perlu mendatangkan trainer-trainer kondang dengan segala kegiatan ice-breaking yang heboh. Tetapi sesudah training berlalu, sebulan kemudian sudah tak berbekas lagi.

Bukan tidak boleh menyelenggarakan training motivasi untuk siswa. Tapi tanpa memperhatikan hal-hal yang dapat menjaga dan menguatkan motivasi, meski tampaknya bukan kegiatan motivasi, maka seluruh training yang menghebohkan itu akan menguap begitu saja. Sesaat begitu menggugah, selanjutnya nyaris tanpa bekas.

Bukan Jawaban yang Benar

Yang paling penting dari pemberian pekerjaan rumah (PR) bukan agar siswa mampu menjawab dengan benar (answering right). Bukan. Jauh lebih penting daripada sekedar menemukan jawaban yang benar adalah proses belajar, bagaimana siswa memahami materi pelajaran dan tertarik dengannya (making connection with lesson) serta berusaha mengerjakan secara sungguh-sungguh dan menemukan jawaban baik (completing assignment and answering well).

Ada perbedaan antara menjawab dengan jawaban yang benar (answering right) dengan menjawab secara sungguh-sungguh melalui proses yang benar (answering well). Jika guru hanya menuntut siswa untuk menemukan jawaban yang benar, maka proses menjadi tidak penting. Kualitas pengerjaan PR hanya dinilai dari jumlah jawaban yang benar dan salah, lalu memberi skor alias nilai. Bagaimana prosesnya sehingga siswa sampai kepada jawaban itu, sama sekali tidak penting. Kalau pun dianggap penting, siswa tidak merasakan pentingnya karena tidak ada umpan balik (feedback). Padahal benar atau salah, sama-sama sangat berharga bagi proses belajar siswa jika guru memberi umpan balik secara tepat. Jika siswa menjawab salah, mereka tahu mengapa mereka salah dan apa sebabnya. Jika mereka menjawab benar, mereka juga dapat memastikan bahwa benarnya jawaban bukan semata karena kebetulan hasil akhirnya benar. Sebab jika yang benar hanya hasil akhirnya, sesungguhnya ini bukanlah jawaban yang benar, melainkan semata kebetulan jawabannya bersesuaian dengan yang benar.

Jawaban benar tapi prosesnya salah, dalam masalah dien ibarat benar kesimpulan hukumnya tapi keliru dalilnya. Menunjukkan keutamaan memaafkan, tapi dalilnya “rahmatan lil ‘alamin”. Sama sekali tidak tepat. Memaafkan memang mulia, tapi “rahmatan lil ‘alamin” sama sekali tidak terkait dengan memaafkan.

Saya jadi teringat pengalaman di kelas 3 di SMA Negeri 2 Jombang, Jawa Timur. Sulit sekali hati merasa tenang jika siswa tidak mengerjakan sendiri PR-nya. Salah atau benar, siswa perlu memahami bagaimana jawaban itu diperoleh. Dan siswa tidak akan paham jika ia hanya menyalin pekerjaan temannya. Siswa seperti inilah yang akan deg-degan selama pembahasan PR sebab sewaktu-waktu ia akan ditanya bagaimana prosesnya memperoleh jawaban. Siswa seperti ini yang biasanya tampak gelisah. Padahal guru justru sering menunjuk siswa yang gelisah, meski kadang langsung menanyai mengapa gelisah.

Perlakuan yang tepat terhadap hasil pengerjaan PR siswa menjadikan mereka bergairah mengerjakan tugas di waktu-waktu berikutnya, baik berupa PR maupun tugas yang langsung dikerjakan di sekolah. Jika guru lebih mementingkan bagaimana siswa menemukan jawaban dan bukan bersibuk dengan apa jawabannya, maka siswa akan lebih bersemangat mengikuti pembahasan soal dan pelajaran yang mengikutinya. Boleh jadi siswa salah dalam menjawab, tetapi kesalahan itu justru menjadi pintu untuk mampu mengerjakan tugas secara benar. Inilah yang memicu siswa lebih suka memilih soal yang tingkat kesulitannya tinggi –jika mereka diberi pilihan—daripada soal yang mudah. Ia menyukai soal-soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi karena memberi tantangan yang lebih besar dan dengan sendirinya memberi peluang belajar yang lebih tinggi. Tetapi jika guru berorientasi pada hasil jawaban, lalu memberi skor pada pekerjaan siswa seraya memuji yang hasilnya bagus, siswa cenderung tidak berani ambil resiko. Mereka lebih menyukai soal yang mudah karena peluang memperoleh skor/nilai yang bagus akan lebih tinggi. Mereka lebih mementingkan kesempatan memperoleh nilai yang baik daripada kesempatan belajar yang lebih menantang. Jika sudah berkerak jadi penyakit, mereka lebih suka teknik instant mengerjakan soal daripada pemahaman mendalam terhadap pelajaran.

Hari ini, apakah yang terjadi pada anak-anak kita (bahkan mahasiswa kita)? Mereka lebih menyukai soal yang mudah atau mereka lebih menunjukkan kegairahan menghadapi tantangan? Mari kita jawab secara jujur. Dan itulah gambaran nyata mutu pendidikan kita.

Jadi, apakah kita sebaiknya tidak memberi skor/nilai pada hasil pengerjaan PR siswa? Sesekali boleh, tanpa memberitahukan kepada mereka terlebih dulu. Yang jelas, kita harus memberi umpan balik secara tepat dan efektif kepada mereka. Bukan sekedar memeriksa tugas.

Kerjakan PR di Rumah

Jangan pernah izinkan siswa mengerjakan PR di sekolah. Pastikan siswa menyelesaikan tugas-tugas tersebut di rumah sebagai proses pembelajaran terencana dari guru. Mengerjakan tugas secara keseluruhan atau menyelesaikan yang tersisa di sekolah, menyebabkan mereka kehilangan waktu berharga di awal masuk kelas. Meskipun mereka mengerjakan saat istirahat, atau sebelum pelajaran dimulai, tetapi ini berpengaruh besar terhadap kegairahan mereka belajar pada jam-jam berikutnya. Perhatian mereka telah banyak terenggut untuk mengerjakan PR yang tersisa atau bahkan mengerjakan sepenuhnya di kelas.

Ada dua keadaan yang patut dipikirkan tentang mengerjakan PR di kelas. Pertama, jika siswa mengerjakan sendiri PR tersebut, perhatiannya akan banyak terkuras. Lebih-lebih jika jadwal pelajaran yang di dalamnya ada penugasan tersebut ada di jam terakhir, praktis siswa tidak dapat mengikuti seluruh mata pelajaran sebelumnya dengan penuh perhatian. Badannya ada di kelas, matanya seperti memperhatikan guru yang sedang menerangkan, tapi pikirannya ada pada PR. Ia sibuk mencuri kesempatan dan menenggelamkan diri dalam tugas yang diterimanya.

Kedua, jika ia mencontoh alias menyalin hasil pengerjaan PR temannya, maka perhatiannya akan banyak tersita untuk menyalin. Situasi psikisnya dapat seperti ilustrasi yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Ia menyibukkan diri menyalin, mengabaikan pembelajaran yang sedang berlangsung, dan sesekali menunjukkan pura-pura memperhatikan.

Jika guru biasa memberi umpan balik, siswa yang hanya menyalin PR temannya akan memiliki kecemasan lebih tinggi. Ia khawatir nanti akan diberi pertanyaan oleh guru terkait hasil pekerjaannya. Salah satu benar, jika bukan ia sendiri yang mengerjakan, akan sulit baginya untuk menjelaskan. Sebaliknya jika tidak ada umpan balik, sementara guru hanya memberi skor terhadap hasil pengerjaan PR, maka sangat mungkin akan terjadi demotivasi. Siswa yang mencontoh tidak merasa khawatir, sementara yang dicontoh merasa rugi telah bekerja keras.

Tetapi…, untuk sementara anggaplah mereka mengerjakan sendiri PR tersebut. Tidak adanya pengawasan yang ketat sehingga memungkinkan siswa menyelesaikan tugas (completing the assignment) di kelas, menjadikan kehilangan saat berharga untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Selain kehilangan gairah dan kegembiraan belajar, merampungkan PR di kelas menjadikan anak tidak dapat mengikuti instruksi guru dengan baik. Padahal, ia seharusnya mengerahkan seluruh perhatian dan energinya untuk menyerap apa yang diterangkan guru.

Jika siswa tidak dapat mencerna pelajaran dengan baik, maka ia pun akan kurang bergairah mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Dan ini membawa akibat berkelanjutan. Motivasi belajarnya (academic motivation) menurun terhadap mata pelajaran tersebut dan bahkan dapat merembet ke mata pelajaran lain. Antusiasme belajarnya juga berkurang. Ia berada di kelas, tetapi tidak nyambung dengan pelajaran (lack of connection with lesson).

Penjelasan ini menegaskan sekali lagi bahwa memotivasi anak sama sekali tidak cukup hanya dengan memberi mereka training motivasi. Training motivasi yang hebat tidak akan memberi manfaat apa-apa jika hal-hal yang menyertai belajar anak diabaikan oleh guru. Sebaliknya, tanpa memberi mereka training motivasi sama sekali, jika pengelolaan kelas, strategi penyampaian materi pelajaran, iklim kelas dan budaya sekolah diperhatikan dengan baik, maka anak-anak itu akan memiliki motivasi belajar (academic motivation yang kuat).

Ini bukan berarti sekolah terlarang menyelenggarakan training motivasi. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa training hanyalah salah satu skrup kecil. Itu bersifat aksesoris.

Sekedar catatan, saya sendiri sering memberi training motivasi kepada anak. Saya juga pernah memiliki status formal sebagai wakil kepala sekolah bidang motivasi. Dan justru karena itulah, saya harus menyampaikan kepada Anda agar tidak keliru mengambil kebijakan.

Selebihnya, guru juga harus memperhatikan PR-nya sendiri. Jika kita menuntut anak mengerjakan PR di rumah, kita pun harus menuntaskan PR kita sendiri sebelum tiba di sekolah. Jangan sampai kita masih kelabakan mencari bahan saat akan mengajar. Padahal kita sudah berada di kelas.

Nah.

Bacaan lebih lanjut:

The Art and Science of Teaching, Robert J. Marzano, 2007
The End of Molasses Classes, Ron Clark, 2011
Rethinking Homework karya Cathy Vatterott, 2009

Empat Kejahatan Orang Tua Terhadap Anak

Empat Kejahatan Orang Tua Terhadap Anak (dari dakwatuna.com)
Oleh: Mochamad Bugi

dakwatuna.com – Rasulullah saw. sangat penyayang terhadap anak-anak, baik terhadap keturunan beliau sendiri ataupun anak orang lain. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. mencium Hasan bin Ali dan didekatnya ada Al-Aqra’ bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah saw. segera memandang kepadanya dan berkata, “Man laa yarham laa yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari di Kitab Adab, hadits nomor 5538).

Bahkan dalam shalat pun Rasulullah saw. tidak melarang anak-anak dekat dengan beliau. Hal ini kita dapat dari cerita Abi Qatadah, “Suatu ketika Rasulullah saw. mendatangi kami bersama Umamah binti Abil Ash –anak Zainab, putri Rasulullah saw.—Beliau meletakkannya di atas bahunya. Beliau kemudian shalat dan ketika rukuk, Beliau meletakkannya dan saat bangkit dari sujud, Beliau mengangkat kembali.” (HR. Muslim dalam Kitab Masajid wa Mawadhi’ush Shalah, hadits nomor 840).

Peristiwa itu bukan kejadian satu-satunya yang terekam dalam sejarah. Abdullah bin Syaddad juga meriwayatkan dari ayahnya bahwa, “Ketika waktu datang shalat Isya, Rasulullah saw. datang sambil membawa Hasan dan Husain. Beliau kemudian maju (sebagai imam) dan meletakkan cucunya. Beliau kemudian takbir untuk shalat. Ketika sujud, Beliau pun memanjangkan sujudnya. Ayahku berkata, ‘Saya kemudian mengangkat kepalaku dan melihat anak kecil itu berada di atas punggung Rasulullah saw. yang sedang bersujud. Saya kemudian sujud kembali.’ Setelah selesai shalat, orang-orang pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, saat sedang sujud di antara dua sujudmu tadi, engkau melakukannya sangat lama, sehingga kami mengira telah terjadi sebuha peristiwa besar, atau telah turun wahyu kepadamu.’ Beliau kemudian berkata, ‘Semua yang engkau katakan itu tidak terjadi, tapi cucuku sedang bersenang-senang denganku, dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. An-Nasai dalam Kitab At-Thathbiq, hadits nomor 1129).

Usamah bin Zaid ketika masih kecil punya kenangan manis dalam pangkuan Rasulullah saw. “Rasulullah saw. pernah mengambil dan mendudukkanku di atas pahanya, dan meletakkan Hasan di atas pahanya yang lain, kemudian memeluk kami berdua, dan berkata, ‘Ya Allah, kasihanilah keduanya, karena sesungguhnya aku mengasihi keduanya.’” (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5544).

Begitulah Rasulullah saw. bersikap kepada anak-anak. Secara halus Beliau mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan anak-anaknya. Beliau juga mencontohkan dalam praktik bagaimana bersikap kepada anak dengan penuh cinta, kasih, dan kelemahlembutan.

Karena itu, setiap sikap yang bertolak belakang dengan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., adalah bentuk kejahatan kepada anak-anak. Setidak ada ada empat jenis kejahatan yang kerap dilakukan orang tua terhadap anaknya.

Kejahatan pertama: memaki dan menghina anak
Bagaimana orang tua dikatakan menghina anak-anaknya? Yaitu ketika seorang ayah menilai kekurangan anaknya dan memaparkan setiap kebodohannya. Lebih jahat lagi jika itu dilakukan di hadapan teman-teman si anak. Termasuk dalam kategori ini adalah memberi nama kepada si anak dengan nama yang buruk.

Seorang lelaki pernah mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar kemudian memanggil putra orang tua itu dan menghardiknya atas kedurhakaannya.

Tidak lama kemudan anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sang anak memiliki hak atas orang tuanya?”

“Betul,” jawab Umar.

“Apakah hak sang anak?”

“Memilih calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya Al-Qur’an,” jawab Umar.

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan. Adapun ibuku, ia adalah wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang majusi; ia menamakanku Ju’lan (kumbang), dan tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an,” kata anak itu.

Umar segera memandang orang tua itu dan berkata kepadanya, “Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”

Rasulullah saw. sangat menekankan agar kita memberi nama yang baik kepada anak-anak kita. Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian.” (HR. Abu Dawud dalam Kitab Adab, hadits nomor 4297).

Karena itu Rasulullah saw. kerap mengganti nama seseorang yang bermakna jelek dengan nama baru yang baik. Atau, mengganti julukan-julukan yang buruk kepada seseorang dengan julukan yang baik dan bermakna positif. Misalnya, Harb (perang) menjadi Husain, Huznan (yang sedih) menjadi Sahlun (mudah), Bani Maghwiyah (yang tergelincir) menjadi Bani Rusyd (yang diberi petunjuk). Rasulullah saw. memanggil Aisyah dengan nama kecil Aisy untuk memberi kesan lembut dan sayang.
Jadi, adalah sebuah bentuk kejahatan bila kita memberi dan memanggil anak kita dengan sebutan yang buruk lagi dan bermakna menghinakan dirinya.

Kejahatan kedua: melebihkan seorang anak dari yang lain
Memberi lebih kepada anak kesayangan dan mengabaikan anak yang lain adalah bentuk kejahatan orang tua kepada anaknya. Sikap ini adalah salah satu faktor pemicu putusnya hubungan silaturrahmi anak kepada orang tuanya dan pangkal dari permusuhan antar saudara.

Nu’man bin Basyir bercerita, “Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku –’Amrah binti Rawahah—kemudian berkata, ‘Saya tidak suka engkau melakukan hal itu sehinggi menemui Rasulullah.’ Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah saw. sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku. Rasulullah saw. berkata kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu?’ Ia berkata, ‘Tidak.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.’ Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu.” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Hibaat, hadits nomor 3055).

Dan puncak kezaliman kepada anak adalah ketika orang tua tidak bisa memunculkan rasa cinta dan sayangnya kepada anak perempuan yang kurang cantik, kurang pandai, atau cacat salah satu anggota tubuhnya. Padahal, tidak cantik dan cacat bukanlah kemauan si anak. Apalagi tidak pintar pun itu bukanlah dosa dan kejahatan. Justru setiap keterbatasan anak adalah pemacu bagi orang tua untuk lebih mencintainya dan membantunya. Rasulullah saw. bersabda, “Rahimallahu waalidan a’aana waladahu ‘ala birrihi, semoga Allah mengasihi orang tua yang membantu anaknya di atas kebaikan.” (HR. Ibnu Hibban)

Kejahatan ketiga: mendoakan keburukan bagi si anak
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tsalatsatu da’awaatin mustajaabaatun: da’watu al-muzhluumi, da’watu al-musaafiri, da’watu waalidin ‘ala walidihi; Ada tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa (keburukan) orang tua atas anaknya.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1828)

Entah apa alasan yang membuat seseorang begitu membenci anaknya. Saking bencinya, seorang ibu bisa sepanjang hari lidahnya tidak kering mendoakan agar anaknya celaka, melaknat dan memaki anaknya. Sungguh, ibu itu adalah wanita yang paling bodoh. Setiap doanya yang buruk, setiap ucapan laknat yang meluncur dari lidahnya, dan setiap makian yang diucapkannya bisa terkabul lalu menjadi bentuk hukuman bagi dirinya atas semua amal lisannya yang tak terkendali.

Coba simak kisah ini. Seseorang pernah mengadukan putranya kepada Abdullah bin Mubarak. Abdullah bertanya kepada orang itu, “Apakah engkau pernah berdoa (yang buruk) atasnya.” Orang itu menjawab, “Ya.” Abdullah bin Mubarak berkata, “Engkau telah merusaknya.”

Na’udzubillah! Semoga kita tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang itu. Bayangkan, doa buruk bagi anak adalah bentuk kejahatan yang akan menambah rusak si anak yang sebelumnya sudah durhaka kepada orang tuanya.

Kejahatan keempat: tidak memberi pendidikan kepada anak
Ada syair Arab yang berbunyi, “Anak yatim itu bukanlah anak yang telah ditinggal orang tuanya dan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan hina. Sesungguhnya anak yatim itu adalah yang tidak dapat dekat dengan ibunya yang selalu menghindar darinya, atau ayah yang selalu sibuk dan tidak ada waktu bagi anaknya.”

Perhatian. Itulah kata kuncinya. Dan bentuk perhatian yang tertinggi orang tua kepada anaknya adalah memberikan pendidikan yang baik. Tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal adalah bentuk kejahatan orang tua terhadap anak. Dan segala kejahatan pasti berbuah ancaman yang buruk bagi pelakunya.

Perintah untuk mendidik anak adalah bentuk realisasi iman. Perintah ini diberikan secara umum kepada kepala rumah tangga tanpa memperhatikan latar belakang pendidikan dan kelas sosial. Setiap ayah wajib memberikan pendidikan kepada anaknya tentang agamanya dan memberi keterampilan untuk bisa mandiri dalam menjalani hidupnya kelak. Jadi, berilah pendidikan yang bisa mengantarkan si anak hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

Perintah ini diberikan Allah swt. dalam bentuk umum. “Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Adalah sebuah bentuk kejahatan terhadap anak jika ayah-ibu tenggelam dalam kesibukan, sehingga lupa mengajarkan anaknya cara shalat. Meskipun kesibukan itu adalah mencari rezeki yang digunakan untuk menafkahi anak-anaknya. Jika ayah-ibu berlaku seperti ini, keduanya telah melanggar perintah Allah di surat Thaha ayat 132. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
Rasulullah saw. bersabda, “Ajarilah anak-anakmu shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila tidak melaksanakan shalat) pada usaia sepuluh tahun.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shalah, hadits nomor 372).

Ketahuilah, tidak ada pemberian yang baik dari orang tua kepada anaknya, selain memberi pendidikan yang baik. Begitu hadits dari Ayyub bin Musa yang berasal dari ayahnya dan ayahnya mendapat dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Maa nahala waalidun waladan min nahlin afdhala min adabin hasanin, tak ada yang lebih utama yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi adab yang baik.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1875. Tirmidzi berkata, “Ini hadits mursal.”)

Semoga kita tidak termasuk orang tua yang melakukan empat kejahatan itu kepada anak-anak kita. Amin.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/02/403/empat-kejahatan-orang-tua-terhadap-anak/#ixzz1qealJNvK

Sebuah Episode Pak Dahlan

Saya teringat twit @PakBondan smalam soal macet di tol, blio bilang “Dahlan Iskan di mana, ya? Gerbang Tol Pejompongan dan Semanggi 1 ditutup. Akibatnya, Semanggi 2 padat. 1,5 km 1 jam. Tidak logis!” Entah mengapa pagi ini Beliau memberikan penjelasan mengenai hal tersebut di hastag #GerbangTol , mungkin karena ada yang tidak terima dengan kata2 itu, banyak saya raasa. Sama seperti komentar Taufik Kiemas yang langsung mendapat serangan bertubi-tubi. Sayangnya serangan yang dilakukan pembaca bukan kepada masalah pernyataannya tapi langsung persoanl attack. Lucu yah, padahal yang baca2 situs2 seperti metrotv dan situs berita yang lain sebagian besar harusnya tau mengenai etika menyanggah. Yah mungkin mereka emosi karena apa yang dilakukan oleh sang “hero” tidak mendapat pujian, hanya komentar datar yang cendeung meremehkan.

Bukan berarti apa yang dilakukan Pak Dahlan salah, dimana-mana sepekat bahwa itu perlu sebagai lecutan bagi pengelola agar melayani masyarakat dengan pelayanan terbaik. Akan tetapi, komentar beberapa tokoh seperti Taufik Kiemas dan Anis Matta juga ga masalah. Mereka hanya mengnjurkan agar ada perubahan sistemik, sehingga tidak harus ada Pak Dahlan di setiap gerbang tol, repot klo gini kan?
Memang, walaupun mungkin kurang tepat berkomentar saja dan dalam situasi euforia, tapi ga usah di benturkan lah jadi aksi vs komentar… klo qt ky gt terus, pcy deh g bakalan dpt pemimpin yg oke. Soalnya qt sebagai rakyat seringkali terlalu cepat menyimpulkan dan menghakimi sesuatu dari melihat yang ada dipermukaan saja. Akhirnya meletakkan sesuatu tidak sesuai tempatnya, klo lagi seneng mengelu2kan, klo liat ada cacatnya langsung hujat habis2an.
ayolah sikapi segala sesuatunya biasa saja, sesuai dengan porsinya, bukankah semua yang berlebihan itu ga baik?

Dua hal yang berbeda tak selalu harus didikotomikan apalagi dibenturkan, phl bisa2 klo digabungkan malah jadi kekuatan yg luarbiasa, jadi?
Masalahnya lagi seringkali kita hanya mau liat/ dengar karena siapa yang ngomong/bbuat bukan omongnnya/ pbuatannya apa

(ntar di edit lagi lum selese)

Sekelumit tentang Sebuah Ironi

Sore itu waktunya bincang-bincang sore di teras, bersama bapak tentu saja.
Sore itu, bapak cerita mengenai hasil panen kali ini yang alhamdulillah meningkat cukup banyak dari panen sebelumnya. Kata bapak salah satunya karena sawah dirawat dengan hati, sawah tidak hanya diposisikan sebagai lahan untuk produksi saja, tapi bagaimana kita benar2 merawat tanahnya, tanamannya dengan kasih sayang, kira-kira seperti itu.
Kata bapak lagi, kali ini menggunakan pupuk organik, juga tanpa disemprot, ternyata hasilnya lebih bagus. Walaupun saat pada proses menyiapakan lahan sebelum ditanami atau biasa disebut matun untuk tahap memebersihkan rumput-rumput yang tumbuh, cukup mengalami kesulitan. Harus diulang karena tanpa menggunakan obat kimia ataupun semprot, rumput-rumput itu cepat sekali tumbuh.
Akan tetapi, menurut bapak itu tidak apa-apa, justru malah pupuknya tambah banyak karena rumpu-rumput tersebut di buat sedemikian rupa sehingga dan digunakan untuk pupuk tidak dibuang.
Subhanallah alam memang selalu punya mekanisme yang teratur sebenarnya, alur yang rapi dan detil, maha sempurna Allah yang telah menciptakannya.
Obrolan kami pun berlanjut, mengenai masyarakat desa kami yang masih banyak yang menggunakan pupuk dan semprot kimia untuk sawah-sawah mereka. Padahal, dari penyuluhan pertanian sudah dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik juga memanfaatkan sisa batang padi dan rumput untuk pupuk.
Dari situ, saya jd kepikiran, bukannya penyuluhan pertanian itu juga diadakan oleh pemerintah? yang ngijinin n subsidi pupuk non-organik siapa?

sama kayak rokok, yang nganjurin ga ngerokok kan dinkes? dinkes pemerintah bukan? yang ngijinin produksi rokok siapa?

Bila Anak tak lagi punya Dunianya….

Lihat ini topiku yang baru jadi
topi kertas buatan sendiri
topi kertas seperti topi tentara
dari koran yang sudah dibaca

Ada yang ingat bait-bait lagu di atas? Kalau saya dulu nyanyi ini waktu TK sampaii SD awal-awal. Sambil membuat topi kertas dari koran karena kebetulan di rumah langganan koran. Dahulu, saya tidak pernah terfikir bahwa lagu ini sebenarnya ada isinya selain hanya lagu yang menyenangkan untuk membuat sebuah hasil karya berupa topi dan membayangkan menjadi seorang tentara.
Hingga pada suatu hari saat saya sedang berada di bus jurusan Kebumen-Jogja, ada seorang ibu muda bersama dengan anak balitanya duduk di seberang tempat duduk saya. Anaknya rewel, mungkin kepanasan, kemudian diam karena si ibu menyalakan hp dan memutar lagu keong racun yang nge-beat.
dalam hati, aduuuuh ibu ini, kok ya muternya itu lagu, yah walaupun kemudian anaknya juga diam. akan tetapi, terpikir ga sih isi lagu-lagu itu akan mempengaruhi kejiwaan si anak?
akan tetapi, bagaimana lagi, kondisinya dunia musik saat ini tidak memberikan banyak ruang untuk perkembangan musik anak-anak. Padahal lagu itu universal, kita dapat menyampaikan banyak hal dari sana. Mulai pesan moral, akhlak, agama, akidah, sampai masalah lingkungan, dsb.
sama seperti lagu di awal tulisan ini, dari sana anak akan cenderung ingin membuat topi dari koran yang sudah dibaca. Berarti kita mengajarkan kreativitas dan pelestarian lingkungan. Kreativitas, dengan membuat sesuatu sendiri dan pelestarian lingkungan dengna memanfaatkan barang bekas. Mungkin sekarang baru bisa dari koran, tapi selanjutnya ia akan terbiasa untuk dapat memanfaatkan apapun, secara tidak langsung kita juga mengajarkan ilmu bertahan hidup.
Selain itu, katak-kata “seperti topi tentara”, kita sudah mengenalkan satu profesi kepada si anak, disini imajinasi dan wawasan dapat diasah.
Lagu anak-anak bukan cuma itu, masih banyak yang lain yang sarat makna. Sayangnya banyak orang tua yang tidak memilih untuk memperdengarkan dan secara tidak langsung mengajarkan kepada anak bahwa mendengarkan lagu anak-anak itu ga gaol 😀 … bagaimana dengan Anda?