Sebuah Episode Pak Dahlan

Saya teringat twit @PakBondan smalam soal macet di tol, blio bilang “Dahlan Iskan di mana, ya? Gerbang Tol Pejompongan dan Semanggi 1 ditutup. Akibatnya, Semanggi 2 padat. 1,5 km 1 jam. Tidak logis!” Entah mengapa pagi ini Beliau memberikan penjelasan mengenai hal tersebut di hastag #GerbangTol , mungkin karena ada yang tidak terima dengan kata2 itu, banyak saya raasa. Sama seperti komentar Taufik Kiemas yang langsung mendapat serangan bertubi-tubi. Sayangnya serangan yang dilakukan pembaca bukan kepada masalah pernyataannya tapi langsung persoanl attack. Lucu yah, padahal yang baca2 situs2 seperti metrotv dan situs berita yang lain sebagian besar harusnya tau mengenai etika menyanggah. Yah mungkin mereka emosi karena apa yang dilakukan oleh sang “hero” tidak mendapat pujian, hanya komentar datar yang cendeung meremehkan.

Bukan berarti apa yang dilakukan Pak Dahlan salah, dimana-mana sepekat bahwa itu perlu sebagai lecutan bagi pengelola agar melayani masyarakat dengan pelayanan terbaik. Akan tetapi, komentar beberapa tokoh seperti Taufik Kiemas dan Anis Matta juga ga masalah. Mereka hanya mengnjurkan agar ada perubahan sistemik, sehingga tidak harus ada Pak Dahlan di setiap gerbang tol, repot klo gini kan?
Memang, walaupun mungkin kurang tepat berkomentar saja dan dalam situasi euforia, tapi ga usah di benturkan lah jadi aksi vs komentar… klo qt ky gt terus, pcy deh g bakalan dpt pemimpin yg oke. Soalnya qt sebagai rakyat seringkali terlalu cepat menyimpulkan dan menghakimi sesuatu dari melihat yang ada dipermukaan saja. Akhirnya meletakkan sesuatu tidak sesuai tempatnya, klo lagi seneng mengelu2kan, klo liat ada cacatnya langsung hujat habis2an.
ayolah sikapi segala sesuatunya biasa saja, sesuai dengan porsinya, bukankah semua yang berlebihan itu ga baik?

Dua hal yang berbeda tak selalu harus didikotomikan apalagi dibenturkan, phl bisa2 klo digabungkan malah jadi kekuatan yg luarbiasa, jadi?
Masalahnya lagi seringkali kita hanya mau liat/ dengar karena siapa yang ngomong/bbuat bukan omongnnya/ pbuatannya apa

(ntar di edit lagi lum selese)

Advertisements

Sekelumit tentang Sebuah Ironi

Sore itu waktunya bincang-bincang sore di teras, bersama bapak tentu saja.
Sore itu, bapak cerita mengenai hasil panen kali ini yang alhamdulillah meningkat cukup banyak dari panen sebelumnya. Kata bapak salah satunya karena sawah dirawat dengan hati, sawah tidak hanya diposisikan sebagai lahan untuk produksi saja, tapi bagaimana kita benar2 merawat tanahnya, tanamannya dengan kasih sayang, kira-kira seperti itu.
Kata bapak lagi, kali ini menggunakan pupuk organik, juga tanpa disemprot, ternyata hasilnya lebih bagus. Walaupun saat pada proses menyiapakan lahan sebelum ditanami atau biasa disebut matun untuk tahap memebersihkan rumput-rumput yang tumbuh, cukup mengalami kesulitan. Harus diulang karena tanpa menggunakan obat kimia ataupun semprot, rumput-rumput itu cepat sekali tumbuh.
Akan tetapi, menurut bapak itu tidak apa-apa, justru malah pupuknya tambah banyak karena rumpu-rumput tersebut di buat sedemikian rupa sehingga dan digunakan untuk pupuk tidak dibuang.
Subhanallah alam memang selalu punya mekanisme yang teratur sebenarnya, alur yang rapi dan detil, maha sempurna Allah yang telah menciptakannya.
Obrolan kami pun berlanjut, mengenai masyarakat desa kami yang masih banyak yang menggunakan pupuk dan semprot kimia untuk sawah-sawah mereka. Padahal, dari penyuluhan pertanian sudah dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik juga memanfaatkan sisa batang padi dan rumput untuk pupuk.
Dari situ, saya jd kepikiran, bukannya penyuluhan pertanian itu juga diadakan oleh pemerintah? yang ngijinin n subsidi pupuk non-organik siapa?

sama kayak rokok, yang nganjurin ga ngerokok kan dinkes? dinkes pemerintah bukan? yang ngijinin produksi rokok siapa?