Sekelumit tentang Sebuah Ironi

Sore itu waktunya bincang-bincang sore di teras, bersama bapak tentu saja.
Sore itu, bapak cerita mengenai hasil panen kali ini yang alhamdulillah meningkat cukup banyak dari panen sebelumnya. Kata bapak salah satunya karena sawah dirawat dengan hati, sawah tidak hanya diposisikan sebagai lahan untuk produksi saja, tapi bagaimana kita benar2 merawat tanahnya, tanamannya dengan kasih sayang, kira-kira seperti itu.
Kata bapak lagi, kali ini menggunakan pupuk organik, juga tanpa disemprot, ternyata hasilnya lebih bagus. Walaupun saat pada proses menyiapakan lahan sebelum ditanami atau biasa disebut matun untuk tahap memebersihkan rumput-rumput yang tumbuh, cukup mengalami kesulitan. Harus diulang karena tanpa menggunakan obat kimia ataupun semprot, rumput-rumput itu cepat sekali tumbuh.
Akan tetapi, menurut bapak itu tidak apa-apa, justru malah pupuknya tambah banyak karena rumpu-rumput tersebut di buat sedemikian rupa sehingga dan digunakan untuk pupuk tidak dibuang.
Subhanallah alam memang selalu punya mekanisme yang teratur sebenarnya, alur yang rapi dan detil, maha sempurna Allah yang telah menciptakannya.
Obrolan kami pun berlanjut, mengenai masyarakat desa kami yang masih banyak yang menggunakan pupuk dan semprot kimia untuk sawah-sawah mereka. Padahal, dari penyuluhan pertanian sudah dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik juga memanfaatkan sisa batang padi dan rumput untuk pupuk.
Dari situ, saya jd kepikiran, bukannya penyuluhan pertanian itu juga diadakan oleh pemerintah? yang ngijinin n subsidi pupuk non-organik siapa?

sama kayak rokok, yang nganjurin ga ngerokok kan dinkes? dinkes pemerintah bukan? yang ngijinin produksi rokok siapa?

Advertisements